Nurdin Halid Pemimpin Nasionalis Berwatak Raja Bugis – FAJAR sulsel
News

Nurdin Halid Pemimpin Nasionalis Berwatak Raja Bugis

SEORANG pemimpin, bukan diciptakan tapi ia dilahirkan. Sama seperti Nurdin Halid. Ia lahir sudah ditakdirkan jadi pemimpin dan bukan penguasa. Meski ia telah sukses berkiprah di kancah nasional dan bahkan internasioanal, namun kepemimpinannya tetap mencerminkan sebagai pemimpin berwatak Raja Bugis.

Dimana, ia dikenal berani, jujur, tegas, adil dan bijak. Berdasarkan sejarah atau catatan dalam lontara Bugis, sekalipun Nurdin Halid (NH) dikenal sebagai tokoh nasionalis, tapi ia adalah tipe pemimpin yang memiliki watak yang sama dengan Raja Bugis.

Pertama, Ketua Golkar Sulsel itu berwatak Bumi. Di mana ia punya visi jauh ke depan, murah hati, suka beramal dan senantiasa berusaha menjaga kepercayaan masyarakat atau rakyat. Kedua, mantan Dirut Puskud Hasanuddin ini berwatak Langit.

Ia punya keluasan bathin dan pengendalian diri yang kuat. Sehingga dengan sabar menampung aspirasi masyarakat dan sekaligus mencari solusi dengan cepat dan tepat. Ketiga, Ketua Harian DPP Golkar itu berwatak Bintang. Seperti bintang sekalipun dikelilingi bumi, matahari dan bulan ia tak bergeming dari porosnya.

Ia punya sikap dan prinsip yang tetap serta mampu jadi tauladan bagi orang yang dipimpinnya. Ia tidak pernah ragu mengambil dan menjalankan keputusan yang telah disepakati.

Selain itu, ia tidak mudah terpengaruh dengan pihak manapun yang menyesatkannya. Keempat, mantan Ketua Umum Koperasi Indonesia (KDI) ini berwatak Matahari. Ia menjadi sumber segala kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang.

Ia seorang pemimpin yang mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup dan juang masyarakat untuk membangun daerahnya. Yakni, dengan memberi bekal lahir dan bathin untuk dapat berkarya dan memanfaatkan cipta, rasa dan karsanya. Kelima, mantan Ketua Umum PSSI ini berwatak Bulan.

Ia selalu menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan sejuk yang indah mempesona. Ia sanggup dan memberi dorongan serta mampu membangkitkan semangat masyarakat saat sedang menderita kesulitan. Dan, tatkala masyarakat susah ia mampu tampil di garda terdepan.

Dan, sebaliknya ketika masyarakat sudah senang, ia memilih berada di belakang. Keenam, mantan Dirut PT Goro Batara Sakti Jakarta itu berwatak Angin. Ia berada di segala tempat tanpa membedakan dataran tinggi dan dataran rendah ataupun ngarai.

Ia selalu dekat dengan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, derajat dan martabatnya. Sehingga secara langsung bisa mengetahui kondisi dan keinginan masyarakat.

Ketujuh, mantan Ketua DPD AMPI Sulsel itu berwatak Api. Ia berwibawa dan berani menegakkan hukum, aturan dan kebenaran dengan tegas dan tuntas tanpa pandang bulu dengan segala konsekwensi yang harus diterima dan dihadapinya.

Kedelapan, mantan manager PSM Makassar ini berwatak Tanah. Ia rela jadi dasar berpijak dan tumbuh. Ia menjadikan dirinya penyubur kehidupan dan tidak tidur memikirkan kesejahteraan orang yang dipimpinnya.

Kesembilan, mantan anggota DPR RI itu berwatak Samudera. Betapa pun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan.
Ia mampu menempatkan semua orang atau masyarakat pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Di mana ia berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap orang yang dipimpinnya.

Kesepuluh atau terakhir. Vice President ICA Asia Facific itu berwatak Rumah. Ia senantiasa menyiapkan dirinya dijadikan sebagai tempat berteduh baik siang maupun malam. Dan, dia selalu memayungi dan melindungi orang yang dipimpinnya.

Kini, ketika ia memilih kembali ke Sulsel, watak kepemimpinannya tertuang dalam sebuah visi misi ‘Kembali Membangun Kampung’. Visi misi itu tidak lahir secara instan. Tapi, lewat sebuah perjalanan dan perjuangan tanpa mengenal waktu, medan dan lelah.

Dimana NH telah melewati lorong-lorong perjuangan, lereng-lereng pengabdian dan sungai-sungai kehidupan. Tujuannya, untuk menemukenali anatomi kampung halamannya.

Selanjutnya, ia kemudian merumuskan visi misinya dalam sebuah konsep atau program sederhana yang diberi nama Tri Karya. Yakni, Pembangunan berbasis Infrastruktur, pembangunan berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Pembangunan berbasis Kearifan Lokal.

Dalam perjuangannya untuk mewujudkan Suslel Baru, ia telah menetapkan hatinya memilih Aziz Qahhar Mudzakkar yang religius jadi pendampingnya maju di Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

Ia rela berkorban lahir bathin dan meninggalkan zona nyaman yang selama ini telah dinikmatinya bersama keluarga besarnya di Jakarta. Hal itu dilakukan tidak lain karena ia ingin menjadikan Sulsel sebagai rumah rakyat Sulsel. Yakni, rumahnya para buruh, petani, nelayan, pedagang dan lainnya.

“Kita tidak boleh jadi penonton, tapi harus berjuang untuk jadi tuan rumah di negeri atau daerah sendiri,” ucap Ketua Harian DPP Golkar itu kepada lintassulsel.com suatu ketika dalam perjalanannya mengunjungi sejumlah pelosok terpencil di Sulsel.

Makanya, mantan Ketua Umum PSSI itu meminta doa dan dukungan rakyat Sulsel dalam mewujudkan niatnya bersama Aziz Qahhar Mudzakkar.

“Mungkin mereka bukan yang terbaik, tapi NH dan Aziz datang dengan niat baik dan membawa kebaikan untuk kemajuan dan kesejahteraan Sulsel”. (*/ary)

LANJUT PALOPO POS

loading...
Click to comment
To Top