Bernostalgia ke Era 70-an di Kopiriolo, Gigit Gula Arennya lalu Seruput Kopinya

Selasa, 7 Juli 2020 12:36
Belum ada gambar

Ruangan bistro Kopiriolo ini, pengunjung akan disuguhi beberapa barang-barang lawas.

Kopiriolo membawa penikmat kopi bernostalgia ke alam era 70-an. Terkenang masa lalu lewat ornamen dan aksesori ruangan.

Laporan: DEWI SARTIKA MAHMUD

FAJAR.CO.ID — Wadah dari anyaman rotan tersusun rapi di atas meja kayu berwarna cokelat. Isinya beberapa kue tradisional seperti cucur, roko-roko unti (kue pisang), ubi goreng, putu, dan beberapa jenis kue lain.

Ketika memasuki ruangan bistro Kopiriolo ini, pengunjung akan disuguhi beberapa barang-barang lawas. Mulai dari telepon zaman dahulu alias jadul, meja, jendela, kursi, lemari, lampu, hiasan dinding hingga temboknya yang sengaja dibuat dengan konsep batu bata.

Orang-orang yang lahir sekitar tahun 70-an akan dibuat bernostalgia dengan konsep penataan ruangnya. Bukan tempat nongkrong biasa, tetapi tempat untuk mengenang masa lalu lewat barang-barang yang ada.

Selain itu juga menjadi wadah edukasi mengenai budaya lokal lewat makanan dan kopi yang disediakan.

Ketika memasuki ruangan lebih dalam, tangga akan membawa pengunjung menuju satu ruangan yang disediakan untuk rapat ataupun seminar.

Dalam ruangan tersebut, serasa kembali ke kampung dan berada di rumah nenek. Kursi tali-tali dominan di sana.

Sesuai namanya, Kopiriolo yang artinya kopi zaman dahulu. Di bistro milik Supardi ini, beragam jenis kopi asli Sulawesi Selatan disediakan. Mulai dari Kopi Toraja, Kopi Rumbia, Kopi Kahayya Bulukumba, Kopi Manipi Sinjai, dan Kopi Bisang Luwu.

Menikmati kopi ini pun tak seperti biasa. Cara minumnya mengikuti orang-orang dahulu, tak dipadukan dengan gula pasir tetapi disajikan dengan gula aren yang disajikan dalam toples.

Supardi mencontohkan cara menikmatinya. Sebuah gelas kaleng berwarna loreng berisi kopi hitam ia seduh. Sebelum meminumnya, lebih dahulu menggigit gula aren lalu menyeruput kopi tersebut.

“Begini cara orang dulu minum kopi. Pakai gula aren dan disajikan dengan gelas jadul yang disebut canteng,” ucapnya sembari tersenyum.

Untuk membuat kediamannya tempat menikmati kopi ala zaman dahulu, Supardi mengkonsepnya selama setahun.

Tak mudah mewujudkan impiannya. Ia berburu benda-benda jadul di berbagai lokasi.

Pria yang juga Direktur Pemasaran Askrindo Syariah ini mengaku, ketika sedang dinas di luar kota, ia sempatkan mencari barang-barang jadul dan membawanya pulang ke rumah. Kebanyakan memang diperoleh di pelosok-pelosok desa.

“Saya sebut bistro karena yang dijual hanya kopi dan kue. Tak ada makanan lain namun untuk orangtua yang membawa anaknya saya siapkan menu teh tarik,” tuturnya.

Di balik niatnya membuat tempat nongkrong dan pusat edukasi dengan konsep yang memperlihatkan budaya Sulsel zaman dahulu, Supardi rupanya juga ingin menghidupkan para pembuat kue tradisional di Sulsel.

Ia pekerjakan para pembuat kue tradisional untuk bistronya itu. “Jadi saya juga mau budaya Sulsel hidup dan perekonomian orang-orang juga hidup,” tuturnya.

Kini Supardi telah menerima siapapun yang ingin datang di Bistro Kopiriolo miliknya. Akan tetapi harus mengikuti protokol kesehatan yang ada. Tetap jaga jarak dan menggunakan hand sanitizer yang disediakan di tiap meja. (*/rif)

Komentar

VIDEO TERKINI