Fakultas Farmasi Unhas Bahas Kondisi Patologis Obat pada Manusia dan Hewan

Kamis, 6 Agustus 2020 10:28

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin kembali menyelenggarakan seri webinar bertema “Change in Transporter Mediated Drug Disposition in Non-Injured Organs During Liver/Kidney Failure”.

Kegiatan yang menghadirkan Prof Yukio Kato (Laboratorium Pharmacotherapeutics Molekul, Universitas Kanazawa Jepang) sebagai narasumber berlangsung pukul 13.00 Wita secara virtual melalui aplikasi zoom, Selasa (04/08).

Webinar resmi dibuka oleh Dekan Farmasi Unhas, Subehan, S.Si., M.Pharm.Sc., Ph.D., Apt. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas partisipasi para narasumber untuk berbagi ilmu dan pengalaman penelitian kepada Unhas.

Kegiatan ini diharapkan selain memberikan tambahan pengetahuan juga membuka peluang pertukaran mahasiswa antara Kanazawa University dan Univesitas Hasanuddin khususnya Fakultas Farmasi Unhas agar terus berlanjut.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yukio Kato memaparkan pengaruh gangguan pada ginjal dan hati di beberapa kondisi patologis terhadap profil beberapa obat dalam tubuh manusia dan hewan.

Sebelum membahas lebih lanjut, Prof. Kato menjelaskan pentingnya mengetahui konsentrasi obat yang tidak terikat dengan protein plasma pada darah. Hal ini disebabkan karena obat yang tidak terikat ini akan mempengaruhi timbulnya efek samping pada tubuh.

Prof. Kato juga menjelaskan tiga hasil penelitian yang berkaitan dengan topik penelitiannya. Salah satunya, penelitian tentang profil farmakokinetika metabolit aktif dari obat antikanker irinotecan, yaitu SN-38 pada pasien gagal ginjal.

Pada penelitian ini, Prof. Kato menemukan bahwa pada pasien gagal ginjal terjadi peningkatan konsentrasi SN-38 pada plasma yang mengakibatkan AUC SN-38 meningkat sebanyak 1,7 kali jika dibandingkan dengan pasien yang normal.

“Setelah dilakukan penelitian lanjutan, konsentrasi dan AUC dari SN-38 yang tidak terikat pada protein plasma meningkat masing-masing sebanyak 2,6 kali dan 4,4 kali. Dengan demikian, potensi efek samping yang dihasilkan akan meningkat,” jelas Prof Kato.

Komentar