Balang Tonjong Hanya Ramai Dibahas, Tak Ada Solusi Real Pembenahan

Selasa, 5 Januari 2021 18:10

Kondisi Danau Balang Tonjong

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Banjir di Kota Makassar sudah menjadi masalah klasik. Daerah resapan yang minim membuat banjir tak kunjung teratasi.

Semestinya ada langkah kongkret untuk menuntaskan banjir yang terjadi di kota ini. Sayangnya, langkah tersebut masih terkesan pasif. Belum betul-betul diseriusi.

Daerah-daerah yang seharusnya dimanfaatkan untuk menjadi daerah resapan masih belum tersentuh dengan baik. Salah satunya, di kawasan Danau Balang Tonjong, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala.

Dahulu, Balang Tonjong cukup efektif sebagai daerah tangkapan air maupun reservoir alami. Di sini juga difungsikan sebagai penampung air sekaligus pengendali banjir.

Sejak 2012 lalu, danau tersebut sudah direncanakan untuk dibenahi. Pemkot Makassar ingin fungsi Balang Tonjong kembali normal. Sekaligus dibanguni Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai ikon kota. Namun hingga kini belum juga terealisasi.

Pantaun FAJAR, Senin, 4 Januari, kondisi Balang Tonjong kini semakin tak terawat. Permukaannya nyaris dipenuhi enceng gondok dan hamparan ilalang. Tak seperti danau lagi.

Meski begitu, warga sekitar masih beraktivitas seperti sediakala. Mereka memanfaatkan beberapa permukaan untuk menjaring, beternak ikan keramba, atau memancing ikan.

Salah seorang warga yang ditemui di lokasi, Muhammadong melihat banyak perubahan di Balang Tonjong. Sejak dua tahun lalu, kondisinya kian tak terurus. Padahal dahulu cukup ramai dikunjungi warga.

“Dahulu banyak yang memancing di sini, tetapi waktu itu belum tertutupi semua permukaannya. Jadi orang bisa naik rakit ke tengah danau untuk memancing,” kisahnya.

Kondisi dermaga di Balang Tonjong juga sudah berubah. Beberapa papan dermaga sudah rapuh. Terlihat kumuh. “Beda sekali suasanya dengan dahulu,” ucap dia.

Pemkot juga sudah tak pernah menyentuh kawasan ini selama bertahun-tahun. Belum lagi sengketa lahan seluas 27 hektare ini tidak beres-beres. Pemkot kewalahan membenahi danau alami Kota Makassar ini.

Pakar Tata Kota Universitas Hasanuddin (Unhas), Rita Lopa mengatakan, 50 tahun ke depan, saluran drainase yang ada saat ini tidak relevan lagi. Bisa kelebihan muatan. Konektivitas saluran sekunder ke primer pun butuh perencanaan baru.

Makanya, kata dia, pemerintah mesti bisa memetakan kawasan yang saat ini belum terbanguni. Jangan asal-asalan. Utamanya, pada daerah yang dahulu merupakan rawa. Itu tempat penyimpanan air yang tak boleh diganggu.

Kawasan Danau Balang Tonjong dinilainya cukup efektif jika dimaksimalkan. Rita mengatakan, tempat ini adalah sumur resapan Kota Makassar. Namun cenderung tidak dilirik secara serius.

Di sinilah diperlukan master plan. Daerah mana saja yang bisa ditimbun. Lalu mana yang perlu dijaga. Kata dia, pemerintah harus bisa menyelamatkan Makassar dari banjir.

“Sebenarnya itu melanggar karena kita merebut daerah resapan yang mestinya bisa dimanfaatkan,” ungkap Rita.

Untuk perencanaan jangka panjang, memang perlu kajian yang matang. Namun, ini penting dirancang mulai dari sekarang. Balang Tonjong harusnya bisa dimaksimalkan. “Investasi ke saluran-saluran itu mesti diperkuat mempertimbangkan potensi pembangunan 50 tahun bahkan 100 tahun ke depan,” sambungnya.

Banyak Alternatif

Pemkot Makassar punya banyak alternatif. Salah satunya Danau Balang Tonjong. Potensi yang terlupakan, yang mesti bisa mengatasi masalah yang membelit. Tamu tahunan yang tak diinginkan; banjir.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Makassar sesungguhnya punya niatan agar Danau Balang Tonjong bisa segera dibenahi. Namun ada persoalan besar yang belum tuntas.

“Dari zaman Pak Ilham Arief Sirahuddin (IAS). Masalahnya itu lahan. Siapa yang punya wewenang,” ujar Hasrul, Tim Survei Lokasi PSDA Drainase Makassar, Senin, 4 Januari.

Banyak potensi yang bisa dikembangkan di sana. Kata Hasrul, Balang Tonjong bisa jadi solusi masalah mitigasi. Jika itu terjadi, masyarakat di Perumnas Antang mestinya tak lagi dipusingkan soal banjir.

“Karena kalau Balang Tonjong itu dibenahi. Luar biasa dampaknya. Insyaallah soal banjir itu bisa teratasi atau paling tidak diminimalisir dengan maksimal dan terukur. Namun kembali lagi status lahan yang menghambat,” ucapnya.

Karena persoalan lahan, tim satgas juga tak berani turun melakukan pembersihan. Pantauan FAJAR, Senin, 4 Januari, eceng gondok dan tanaman hampir memenuhi seluruh area danau.

Bahkan salah satu area danau terpasang papan klaim lahan dimiliki salah satu warga. Itu yang membuat tim satgas tak bisa berbuat banyak. “Jadi kita hanya fokus di drainase atau saluran di area Perumnas,” katanya.

Blok 10 perumnas Antang yang jadi langganan banjir, kata Hasrul juga akan dilakukan perbaikan saluran. Kata dia, tim survei sudah turun dan melakukan pemetaan. “Kita harap masalah banjir paling tidak bisa teratasi,” ucapnya.

Namun kembali lagi, posisi Danau Balang Tonjong tak bisa dinafikan. Kata Hasrul koneksi antar saluran drainase juga bertumpu dari posisi danau.

“Mestinya danau itu bisa jadi sumber saluran pembuangan utama,” harapnya. (*)

REPORTER ANDI NUR ISMAN-ARDIANSYAHEDITOR YUSRIADI

Komentar

VIDEO TERKINI