DLHK Angkat Tangan, Tambang Ilegal Ancam Permukiman

Jumat, 22 Januari 2021 09:50

Ilustrasi tambang galian C. (int)

FAJAR.CO.ID, SINJAI — Tambang ilegal harus mendapat perhatian serius dari pemerintah. Permukiman warga terancam jika terus dibiarkan beroperasi.

Aktivitas tambangan liar yang beraktivitas di Sungai Mangngottong, Kelurahan Biringngere, Kecamatan Sinjai Utara. Aktivitas tambang yang tidak mengantongi izin menimbulkan abrasi.

“Kenapa tambang ilegal terus beroperasi karena pengawasan pemerintah lemah, hari ini ditegur, besok mereka bekerja kembali,” kata Wakil Ketua DPRD Sinjai, Mappahakkang saat Rapat Dengar Pendapat di Gedung DPRD Sinjai, Kamis, 21 Januari.

Politikus PAN ini menyebut, mestinya pemerintah daerah tidak saling lempar tanggung jawab. Apakah ini merupakan kewenangannya atau kewenangan pemerintah provinsi. Yang pasti, pemerintah daerah harus hadir dalam setiap persoalan masyarakat.

Apalagi dampak lingkungan akibat pertambangan liar merupakan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sinjai untuk melakukan pengawasan.

“Kalau memang solusinya harus dilaporkan ke polisi, pemerintah daerah yang harus lakukan itu karena penambang melanggar. Jangan arahkan warga melapor karena akan terjadi benturan di lapangan,” ungkapnya.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sinjai, Andi Iqbal mengungkap, hingga saat ini tambang yang beroperasi di sungai Mangngottong belum pernah mengajukan permohonan rekomendasi sebagai syarat untuk mengurus izin pertambangan galian C.

Padahal, langkah itu harus dilakukan meski lokasi tambang merupakan milik pribadi. Hanya saja, DLHK tak berani menegur alias angkat tangan. “Jadi kalau tidak ada izin berarti ilegal. Kalau mau ditutup, itu bukan kewenangan kami,” bebernya.

Kepala Bidang Pengendali Dan Evaluasi Dinas ESDM Sulsel, Jamaluddin menyebut, sejak tanggal 11 Desember 2020, penerbitan izin pertambangan kini menjadi kewenangan pemerintah pusat. Hal itu tertuang dalam UU nomor 3 tahun 2020 tentang Minerba.

“Tidak ada lagi kewenangan kami, sebelumnya izin diterbitkan di provinsi, kini tidak lagi, kewenangan ada di pemerintah pusat,” bebernya.

Kendati demikian, dia mengungkap jumlah tambang ilegal di Sinjai pada tahun 2019 sebanyak 22 lokasi. Namun, pada tahun 2020 turun menjadi 17 lokasi

Sementara itu, Pemilik tambang, Akbar mengatakan, pihaknya melakukan aktivitas karena berada di atas lahannya. Terlebih lagi, Pemkab Sinjai berencana melakukan pengerjaan tanggul. Di mana empat meter dari bibir sungai telah dipatok untuk dihibahkan.

“Daripada empat meter itu sia-sia, diberikan secara cuma-cuma maka kami kelola, kami juga siap hibahkan tanah selama kami diberikan izin untuk kelola lahan yang akan dihibahkan itu,” jelasnya.

Kendati demikian, dirinya siap ditertibkan, selama tambang liar lainnya juga ditertibkan. “Jangan hanya fokus ke kami, masih banyak tambang liar lainnya. Itu juga ditindaki supaya adil,” ungkapnya. (sir/ham)

Komentar

VIDEO TERKINI