Data Ganda, Pendataan Rumah Rusak Belum Rampung

Sabtu, 6 Februari 2021 08:57

Warga Mamuju mulai membersihkan puing rumahnya di BTN Axuri Mamuju, Jumat, 5 Februari. Sementara di Majene (foto drone) warga Dusun Aholeang dan Dusun Rui tinggal di posko pengungsian di Dusun Samalio, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda. Mereka khawatir adanya longsoran di pengunungan. (SYAHRUL ALIM/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAMUJU — Sejumlah kendala dihadapi tim perampungan data kerusakan rumah di Mamuju. Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) serta banyaknya data ganda menambah beban tim.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimta) Mamuju, Jufri Badau, saat dikonfirmasi, Kamis 4 Februari.

Hingga saat ini, kata Jufri, tim masih merapikan data calon penerima bantuan rumah rusak. Itu dilakukan setelah tim mendapat data ganda dari calon penerima.

Data ganda terjadi lantaran warga terdampak melaporkan kerusakan rumahnya tidak hanya di kepala lingkungan, melainkan juga melapor ke kelurahan dan ke Disperkimta Mamuju.

“Sekarang kita rampungkan data karena data yang masuk sekarang itu 11.423 masih ada KK dan KTP yang ganda. Setelah dirapikan baru diekspose datanya, bakal diterbitkan melalui SK bupati,” kata Jufri, Jumat 5 Februari.

Jufri menambahkan, timnya tidak memasang target perampungan data tersebut lantaran situasi saat ini masih belum stabil. Gempa susulan masih sering terjadi.

“Angkanya (data angka, red) sudah dikirim ke pusat. Tapi untuk data by name by address-nya masih dirapikan belum dikirim,” sebut Jufri.

Data rumah rusak juga kemungkinan masih akan bertambah. Pemerintah masih membuka kesempatan bagi warga yang belum tercover saat pendataan tahap pertama.

Indikator menentukan kerusakan rumah masuk kategori berat, sedang dan ringan tak bisa berdasarkan hitung-hitungan matematis. Hitungan seperti itu, kata Jufri, cukup panjang. Sementara, pemerintah inginnya pendataan secepat mungkin agar warga benar-benar menerima manfaat bantuan tersebut.

“Kita berdasarkan visual saja. Misalnya, roboh total tidak bisa ditinggali itu berat, kalau sebagian rusak itu sedang dan sebagian besar masih bisa ditempati atau hanya retak sedkit, itu ringan saja. Nanti juga bakal dikroscek kembali BNPB,” jelas Jufri.

Komentar

VIDEO TERKINI