Bangganya Duo Millenial Makassar Ini Bisa Bantu Petani dan Peternak ‘Naik Kelas’

Kamis, 11 Februari 2021 18:39

Rizky dan Irham. (IST)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sektor pertanian dan peternakan merupakan penopang terbesar pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Dua sektor unggulan ini mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel, juga menghasilkan produk yang bisa di ekspor ke sejumlah negara meski di tengah pandemi Covid-19.

Mirisnya, kesejahteraan dan taraf hidup petani maupun peternak seolah tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang ada. Bahkan keberadaan mereka kian tersisih.

Muhammad Rizky, pemuda asal Makassar berusia 20 tahun menyadari fenomena ketimpangan sosial yang dialami petani dan peternak telah mengakar sejak bertahun-tahun lalu. Artinya bukan persoalan baru terjadi.

Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tersebut bersama sahabatnya Irham, terhentak hatinya untuk membantu memberdayakan petani dan peternak. Di mulai dari Provinsi Sulawesi Selatan.

Empati itu muncul saat Rizky, ikut kakaknya berkeliling Sulsel, bertemu petani dan peternak, sekitar 4 bulan dari akhir 2020 lalu. Ia menemukan sejumlah masalah klasik yang dialami para peternak dan petani yang belum ada solusi konkret dari pemerintah.

Dari kondisi yang ia lihat langsung dengan mata telanjang itu, Rizky dan Irham tercetus membuat sebuah startup berbasis teknologi informasi yang diberi nama Ternak Tani. Startup ini memberi peluang yang besar bagi petani maupun peternak serta pelaku usaha kecil, mikro dan menengah untuk pengembangan akses dan jaringan pemasaran yang lebih efisien dan dapat diakses oleh siapapun berbasis digital.

“Kami berangkat dari niat ingin memberdayakan petani dan peternak agar mereka bisa naik kelas dan meningkat kualitas hidupnya,” kata Rizky saat dijumpai fajar.co.id, di Makassar, Kamis (11/2/2021).

Lantas mereka memilih petani dan peternak? Katanya, dari 8,2 juta penduduk di Sulsel, sekitar 1,2 juta itu adalah petani dan peternak. Tidak bisa dipungkiri, pertanian dan peternakan yang menopang perekonomian Sulsel sehingga tetap bisa tumbuh meski ditimpa pandemi Covid-19. Faktanya petani dan peternak tidak sejahtera.

“Keluhan mereka seputar penyerobotan lahan yang dilakukan oleh oknum yang punya power, keterbatasan pupuk, permasalaham ekonomi lainnya. Sebagai penopang ekonomi, Seharusnya mereka sejahtera. Mereka bekerja hanya untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari,”ungkapnya.

Mereka berdua mengaku telah bertatap muka dan berdiskusi langsung dengan petani maupun peternak, juga berdiskusi dengan pakar agrobisnis. Mereka lalu berkesimpulan, ingin hadir memberi solusi guna meminimalisir permasalahan pelik tersebut.

Misalnya yang sedang mereka garap di Desa Barugayya, Kecamatan Pulobangkeng Utara, Takalar. Sekitar 5 tahun lalu di desa ini terdapat ratusan kandang ayam petelur dan broiler konvensional. Makin kesini, kandangnya semakin rapuh hingga tersisa hanya sekitar 40an kandang. Peternak tersebut sistem kerjasama dengan orang luar. Tapi tidak adil bagi hasilnya. Akibatnya peternak merugi.

“Kami kemudian renovasi kandang mereka, kami modernkan kandangnya, diberi sentuhan teknologi, dari 8.000 ekor ayam, menjadi populasinya sekarang 40.000 ekor,” akunya bangga.

Namun di tengah giatnya itu, mereka pun sadar tantangan di depan mata cukup berat, apalagi dihadapkan dengan banyaknya ‘mafia’ atau kartel.

“Kami yakin dengan niat baik dan orang-orang baik di sekitar, kami bisa membantu lebih banyak lagi petani dan peternak, khususnya di Sulsel. Aplikasi Ternak Tani insya Allah launching April 2021. Kami juga akan membantu mendistribusikan hasil tani dan ternak mereka. Membantu mendatangkan pupuk subsidi tepat waktu. Kami tengah mencari pasarnya. Doakan, startup ini jadi yang pertama di Sulsel,” beber Rizky lugas. (endra/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI