Rp2 Miliar Menguap, Bank Mini Sekolah Nyaris Pailit

  • Bagikan

Ia pun tak bisa menjelaskan, kenapa BMS yang dahulu diperuntukkan untuk internal sekolah saja, kini bisa melayani masyarakat umum.

"Kepala sekolah yang dahulu itu dirikan. Hasil studi banding. Nah saya cuma jadi pengelola saja. Seandainya yang pinjam itu tidak menunggak, mungkin tidak begini jadinya. Tetapi apa pun itu, kami siap tanggung risiko," aku Rahman.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMKN 1 Pinrang, Lasidang mengaku, memang betul jika di sekolah yang dinakhodainya sekarang, eksis salah satu unit bisnis sekolah yang diberi nama Bank Mini Sekolah (BMS). "Koperasi ada, tetapi BMS juga ada," jelasnya.

Lasidang bilang, jauh sebelum ia menjabat sebagai kepala sekolah, BMS telah eksis sejak tahun 2000-an. Kini, ia pun baru tahu kalau BMS bermasalah saat muncul begitu banyak keluhan dari nasabah yang ingin menarik uangnya. Namun, kas dari BMS malah kosong.

"Macet memang. Banyak yang tidak kembalikan dana dari uang yang dipinjam di BMS," bebernya.

Ia mengungkapkan, kalau ada ratusan orang yang kini jadi nasabah dari BMS. Estimasi uang mesti dikembalikan oleh BMS, itu berkisar pada angka Rp2 miliar. Lasidang juga mengakui, jika persoalan ini juga telah dilaporkan oleh nasabah ke pihak kepolisian.

"Setahu saya angkanya memang berkisar itu (Rp2 miliar). Belum ada solusi, kecuali nasabah ditunggu bersabar. Nanti normal bisnis sekolah baru diusahakan dibayarkan itu," ujar Lasidang yang sudah dua tahun menjabat sebagai kepala sekolah. (*/fajar)

  • Bagikan

Exit mobile version