Sampah Butuh Sentuhan Teknologi

Selasa, 9 Maret 2021 13:52

Ilustrasi. (int)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sistem pengelolaan sampah di Makassar masih menggunakan cara tradisional. Sekadar ditumpul di TPA.

Sampah di Kota Makassar ibarat bom waktu. Penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa bisa menjadi pemicu pencemaran yang besar. Baik polusi udara, air, dan tanah.

Kepala Laboratorium Riset Sanitasi dan Persampahan, Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Unhas, Irwan Ridwan Rahim mengatakan, pengelolaan persampahan di Makassar memag harus diseriusi. Penggunaan teknologi mutakhir, seperti incinerator sudah harus digunakan.

Hal ini, kata dia, tidak terlepas dari tingginya produksi sampah di Kota Makassar setiap harinya. Di mana, jumlahnya mencapai 12 ribu hingga 14 ribu ton per hari. Delapan ton hingga 10 ribu ton dibuang di TPA. Tidak dikelola dengan baik.

Tidak terkelolalanya sampah, diakuinya, tidak terlepas dari persepsi pemerintah yang keliru dalam penggunaan teknologi Incinerator sampah. Para pejabat di pemerintahan selalu berpendapat hasil sampingan pembakaran sampah berupa listrik bisa menjadi tumpuan biaya operasional.

Di mana hal tersebut hanya bisa dilakukan apabila teknologi tersebut murni milik pemerintah itu sendiri. Berbeda apabila pemerintah mengandalkan insvestor. Pemerintah daerah harus mengeluarkan biaya khusus untuk pengelolaan sampah-sampah itu.

“Teknologi Incinerator dengan kapasitas lima ribu hingga 10 ribu ton itu berkisar Rp5 triliunan. Belum lagi biaya operasional, sehingga investor butuh dana besar,” katanya. Karena itu, ia membandingkannya dengan pengelolaan sampah di luar negeri yang dikelola pihak ketiga.

Menurutnya, pengelolaan sampah yang dipihak ketigakan pada dasarnya berdampak pada pengusaan sepenuhnya terhadap barang tersebut. Hal itu pun diatur dalam perjanjian. Akan tetapi, saat kesepakatan itu sudah habis, maka seluruh alat pembakaran menjadi milik pemerintah.

“Jadi jangan lihat hasil sampingan berupa listriknya, tetapi sampah yang berhasil dibersihkan. Sehingga pada pada suatu saat sampah akan habis. Itu yang jadi fokus utama,” aku Dosen Teknik Lingkungan Unhas ini.

Sementara itu, Dosen Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI), Alfina Baharuddin menambahkan, dalam penelitiannya ada pencemaran mikroplastik pada ikan dan garam.

Berdasarkan data dari World Bank, produksi plastik global saat ini diperkirakan 300 ton per tahun. Sementara polusi plastik di lingkungan laut termasuk pantai diperkirakan 9,5 ton per tahun. Hal ini setara dengan dump truck plastik yang memasuki lautan setiap menit.

“Pengelolaan sampah tidak boleh asal, karena akan mencemari lingkungan. Dan itu sudah terjadi di Makassar, utamanya mikro plastik dan pencemaran air dan tanah di sekitar TPA,” akunya.

Langkah yang banyak dilakukan di negara maju, adalah proses pemilahan jenis sampah. Mereka akan membuangnya di tempat berbeda. Sampah yang bisa didaur ulang akan diolah menjadi baru. Sampah organik pun diolah menjadi pupuk atau bahan bakar lain.

“Jangan semua sampah dibuang di TPA yang tidak ada pengolahannya. Jika itu dilakukan akan menimbulkan gundukan sampah,” tutupnya. (*/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI