Nakes Harus Sabar, Pilih TPP atau Jasa Medik

Rabu, 7 April 2021 09:57

Tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri selama melayani warga yang berobat di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Jongaya, Selasa, 6 April. Para tenaga kesehatan ini berharap bisa mendapatkan TPP dan jasa medik. (IDHAM AMA/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas di Kota Makassar harus bersabar. Harus memilih TPP atau jasa medik. Beban daerah terlalu berat.

Ilham, seorang tenaga kesehatan Puskesmas Pulau Kodingareng hanya bisa merasa heran dengan skema pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dan jasa medik.

Hal ini dikarenakan pemberian itu memiliki dasar. “Dalam Permenkes nomor 21 tahun 2016 jelas diatur pemberian jasa medik dan TPP juga demikian, jelas diatur dalam permendagri yang dipertegas dalam perwali,” bebernya.

Dari sisi sumber angagran, semuanya juga begitu jelas. Sisa bagaimana mau mengalokasikannya atau tidak. Bila disebut bakal memberatkan keuangan daerah, itu sangat kecil kemungkinan karena masing-masing ada alokasi anggarannya.

“Kenapa kami menuntut? Itu karena ada aturannya dan sangat jelas anggarannya ada,” sesalnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Makassar, Agus Djaja Said mengatakan, apabila TPP dipaksakan ke 1.291 tenaga kesehatan puskesmas, maka dibutuhkan tambahan anggaran Rp48 miliar.

Karena itu, ia hanya berharap, para nakes harus memilih. “Apakah mau jasa medik atau TPP. Keuangan daerah tak cukup. Tak bisa dipaksakan,” ucapnya.

Ia menerangkan, sudah ada tim TPP yang sebelumnya sudah dibentuk agar mengkaji pemberian TPP ini dan hasilnya tetap tak bisa diperjuangkan. Tetap tak bisa diadakan. Jangan ada ego karena masih banyak yang harus dibiayai.

“Ini berat. Keuangan tak cukup. Apalagi, sudah ada tunjangan medis yang pada dasarnya tak ada bedanya dengan TPP. Nakes harus mengerti ini. Jangan asal tuntut. Sebab, bukan hanya mereka yang harus ditanggung negara,” terangnya.

Terlebih, kata dia, apabila keduanya diberikan TPP dan jasa medik hal itu justru kian memberatkan keuangan di tengah pandemi covid-19 ini. “Kalau diminta juga TPP dan jasa medik. Bisa dibayangkan kami biaya dua kali lipat,” bebernya.

Karena itu, ia menyarankan, agar para nakes bisa bekerja lebih baik lagi apabila ingin mendapatkan honor jasa medik yang besar. Sebab, jasa medik ini dihitung berdasarkan dengan kinerja masing-masing.

“Jadi jangan heran kalau ada yang memperoleh honor jasa medik rendah atau besar dibandingkan dengan yang lainnya. Ya, itu jasa medik ini dinilai berdasarkan pelayan,” ujarnya.

Penilaian ini, kata dia, dihitung dengan dua metode. Pertama berdasarkan luas wilayah dan paling tertinggi jumlah pesertanya. “Semakin banyak pesertanya (pasien) sudah pasti semakin banyak pula jasa medik yang nakes terima,” terangnya.

Sebaliknya, sambungnya, apabila pelayanan para nakes buruk atau tak disukai pasien, lalu pindah ke puskesmas lain untuk berobat, maka hampir bisa dipastikan mereka (nakes) akan mendapat honor yang sedikit pula.

“Sekarang orang sudah bisa pindah-pindah puskesmas untuk berobat. Kalau di Puskesmas Anda pelayanannya tak baik, maka sudah pasti kurang pula pemasukan Anda,” bebernya.

Karena itu, ia berharap para nakes yang saat ini bekerja di puskesmas agar kiranya sedikit bersabar. Tak menuntut terlalu banyak.

Apalagi kalau meminta agar jasa medik dan TPP juga diberikan. “Kalau kami paksakan jasa medik lalu TPP juga diberikan, hampir pasti sangatlah berat. Harus pilih salah satunya,” tutupnya. (*/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI