Taka Bonerate Selayar, Jangankan Belajar Daring, Jaringan Saja Susah

Kamis, 24 Juni 2021 11:46

Kegiatan anak-anak Pulau Tarupa di Rumah Baca Bahari Taman Nasional Taka Bonerate, Selayar.

Fasilitas pendidikan di kawasan kepulauan memang kerap tertinggal. Sudah ada sekolah, namun alat peraga untuk aktivitas belajar mengajar sangat terbatas.

Laporan: Andi Syaeful

FAJAR.CO.ID, SELAYAR — Sudah setahun lebih, aktivitas pembelajaran tatap muka di pulau ini tak dilakukan. Hanya ada dua sekolah, yakni satu sekolah dasar (SD) serta SMP negeri milik pemerintah.  Ini karena pandemi.

Letak sekolah ini berdampingan. Ruang kelas sangat terbatas. Untuk SD Inpres 95, terdapat satu kelas untuk setiap tingkatan. Begitupun dengan SMP 38 Selayar, juga hanya ada satu kelas saja untuk masing-masing tingkatan.

Sama sekali, tak ada kegiatan di sekolah, hanya beberapa siswa yang tampak datang, untuk sekadar bermain. Baik guru dan kepala sekolah pun juga tak masuk kntor. Maklum, mayoritas PNS yang ada di sekolah ini berasal dari luar.

Balai Taman Nasional Taka Bonerate, tak tinggal diam melihat kondisi ini. Selama setahun lebih, anak-anak tak belajar. Lebih banyak di rumah. Bahkan mereka yang dahulunya bersekolah, justru membantu orang tuanya. 

Bekerja sama dengan Komunitas Pemuda Peduli Lingkungan Tarupa, mereka menghadirkan taman baca bahari. Lokasinya tepat berada di samping kantor SPTN Wilayah 1. Konstruksinya berupa gubuk kayu, ada beberapa rak berisi sekitar 100 buku bacaan.

Mulai dari buku pelajaran, hingga cerita-cerita. Setiap hari, ada puluhan anak-anak baik tingkatan SD dam SMP yang datang. Baik untuk membaca buku, serta bermain. Bahkan menjadi tempat mereka untuk belajar mengaji.

Seperti yang dilakukan, beberapa anak Selasa kemarin. Dipandu anggota Komonitas Pemuda Lingkungan, Alfian mereka tampak serius membaca. Mulai dari buku pelajaran, hingga beberapa buku lain yang tersedia. 

Kata Alfian, sarana ini dihadirkan memang untuk masyarakat. Apalagi sudah satu tahun tak ada kegiatan belajar mengajar. Jangan sampai, niat anak-anak di pulau ini untuk menuntut ilmu, menghilang. 

“Maklum di sini kan rata-rata melayan. Mereka menganggap pendidikan itu tidak penting. Yang penting harus bisa melaut. Hanya sedikit saja yang sadar dan sekolah kan anaknya,” bebernya kepada FAJAR, Selasa, 22 Juni.

Untungnya, kata dia, anak-anak cukup antusias dengan adanya fasilitas ini.  Selain itu, sudah banyak sumbangan yang dia peroleh dari luar. Utamanya sumbangan bahan bacaan, dari beberapa organisasi pendidikan serta pemerintah. 

Minimal, kata dia, masyarakat punya fasilitas membaca. Meskipun, tak banyak yang berminat datang. Tetapi rumah buku ini, tak boleh ditutup. Apalagi belum ada kejelasan, kapan proses belajar tatap muka berjalan. 

Salah seorang guru honorer di SMPN 38 Selayar, Devi Dekawati mengatakan, pembelajaran tatap muka memang tak dilakukan, sejak Februari 2020. Kata dia kebijakan sekolah mengikuti, aturan pemerintah, yang memberlakukan belajar daring.  Apalagi di tengah pandemi.

Hanya saja, siswa di pulau baik SD dan SMP, tak bisa belajar dengan sistem tersebut lantaran kondisi jaringan. Makanya pembelajaran terpaksa berhenti total. Kecuali untuk SMP yang baru-baru ini menggelar ujian semester dan kelulusan. 

“Sarana kita memang terbatas. Jangankan untuk belajar daring, jaringan saja susah di sini.  Memang waktu ujian, SMP sempat masuk sekolah. Itu pun siswa tidak pakai pakaian seragam karena memang belum ada izin belajar dari pemerintah,” bebernya kepada FAJAR. 

Dia mengakui, kondisi anak-anak di pulau ini memang cukup memiriskan. Hanya beberapa orang tua yang sadar dan punya kemampuan lebih yang meminta anaknya lanjut bersekolah. Misalnya saja melanjutkan pendidikan SMA di pusat wilayah Selayar.

Rata-rata setelah SMP mereka langsung menikah. Bahkan tak jarang, ada yang namanya terdaftar sebagai siswa tetapi tak pernah masuk sekolah. Hanya datang saat ujian saja, tak pernah datang saat proses belajar mengajar.  (*)

Komentar

VIDEO TERKINI