Lelaki Kalong

Rabu, 30 Juni 2021 14:00

FAJAR.CO.ID — Pekikan kelelawar datang, menyerbu Makkawali. Dengan sigap dirinya pun menghunus satu per satu kelelawar yang menyerbunya. Naas! gigitan kelelawar bersarang di dada dan pergelangan tangan Makkawali. Dua buah gigi tertancap. Dicabutnya hingga mengucurkan darah di bagian sebelah dadanya. Makkawali tak sadarkan diri.

Itu terjadi ketika Makkawali La Tenri Esso sedang asyik duduk di balai-balai menompa sanregonya. Sanrego turun temurun yang diberikan Arung Malaka kepada anak-cucunya. Makkawali mengurut dan memijat sanreognya sambil mendengar sinrilk dan lagu mapadendang.

Makkawali digotong ke rumah sakit Latemmala, masuk di UGD, dokter mengoperasinya. sekira dua jam ia sadar dari pembaringannya. Ia rasakan betul sakitnya,  menurut dokter tak apa-apa, tapi menurut Makkawali ada sesuatu yang mengalir dalam tubuhnya, mengikuti setiap aliran darah dinadinya. Entah itu apa, betul-betul sakit.

Matanya sayup-sayup membawa Makkawali ke alam lain, ia bertemu dengan gadis ayu, paras wajahnya bersih. Aduhai cantik, lentik bulu matanya, hidungnya yang bangir, tak kuasa membendung dada Makkawali untuk memegang tangannya. Setiap kali Makkawali mendekati perempuan itu, sigap perempuan itu lenyap dan muncul di arah utara, Makkawali mengikutinya ke arah utara, perempuan itu hilang dan muncul di arah jam 12. Makkawali tersenyum. “Kau mempermainkanku!”.

Perempuan itu tersenyum, kembali Makkawali ingin memegang tangan, berhasil. Makkawali memeluk dari belakang perempuan itu. Perempuan itu tersenyum. Makkawali bahagia, namun tak lama perempuan itu menjadi kalong lalu terbang. Makkawali sesak tersungkur ke tanah dan sadarkan diri dari pembaringannya.

Astagfirullah Astagfirullah… Astagfirullah”.

Makkawali mencoba untuk mengatur nafas, dirinya mencoba menafsirkan bunga tidur yang Ia alami. Ditatap sekelilingnya, pasien-pasien dan keluarganya sibuk masing-masing, namun ada yang aneh di atas jeda jendela. Seekor kalong yang bergelantung di sana.

Impus dan selangnya dicabut, hingga Makkawali meminta untuk beristirahat di rumah. Makkawali berjalan menuju rumah berpapasan dengan I Manre, salah satu dukun sakti. I Manre menatap dalam-dalam mata Makkawali, bukan hanya mata, tetapi tubuh Makkawali yang mulai dari ujung rambut hingga kaki. Lalu mengatakan kalau Makkawali baru saja bersetubuh dengan ratu kelelawar hingga dirinya merasakan sakit ketika bergerak.

Darahnya menyatu dengan darah ratu kalong, dan kemungkinan setiap bulan purnama, Makkawali akan didatangi sekumpulan kelalawar, namun tak menyerang lagi mereka hanya menghiasi dinding-dinding rumah Makkawali, sebab dirinya dianggap sebagai raja dari kelelawar itu.

Geram Makkawali mendengar pernyataan I Manre dukun sakti itu, “Ah tidak, kau berbohong!” Makkawali mendorong dukun itu dan berlari ke luar Rumah sakit.

***

Purnama Zulhijjah, Makkawali kembali menompa sanregonya di balai-balai, di bawah rumah panggungnya. Dari arah barat pekikan kelalawar terdengar sayup-sayup dan semakin lama semakin terasa dekat serta suara itu semakin jelas terdengar, Makkawali teringat kalimat yang dilontarkan dukun itu, bahwa ketika bulan purnama sekumpulan kelelawar akan datang bergantungan di rumahnya.

Makkawali menatap dengan saksama, ia menutup semua jendela yang ada di rumahnya, dirinya juga takut apabila perkataan dukung itu betul adanya, sanregonya dipegang erat-erat. Apabila kelalawar itu menyerang maka dia langsung menghabisinya.

Usai menutup daun-daun jendela dan daun-daun pintu, ia turun melihat-lihat, apakah masih ada kelelawar, karena tak lagi mendengar suara pekikan. Dalam hati Makkawali berkata, mungkin kelelawar itu telah pergi terbang dan hanya melintasi rumahnya

Makkawali Turun dari arah belakang rumahnya, pelan-pelan ia mengintip dan menengok ke atas rumahnya ternyata kelelawar itu telah bergelantungan. Mata Makkawali melotot, kalimat dukun itu seperti serapah yang telah menembus jantung Makkawali. Namun, di balai-balai Makkawali melihat seorang perempuan berbaju bodo dengan lipa sabbe, putih dan senyumnya menawan, lalu berkata Daeng.

Teringatlah Makkawali dengan kalimat I Manre. Persetan dengan kata dukun itu, di hadapanku ini seorang wanita bugis sedang berdiri dan memanggilku.

“Siapakah gerangan engkau wahai adik cantik yang nan celita?” begitu Makkawali menggoda perempuan bugis itu. Namun sanregonya tetap digemgamannya. Wanita itu hanya memandang Makkawali dengan senyum yang aduhai. Sambil melangkahkan kakinya menuju Makkawali.

Ditatapnya dalam-dalam mata Makkawali, mata yang berbinar itu memancarkan cahaya purnama. Digemgam tangan Makkawali, diciumnya. Makkawali hanya diam seperti dirinya telah larut dari sinar cahaya purnama itu.

“Makkawali, engkaulah laki-laki yang Aku cari,”

“Engkau telah terpilih, Makkawali”

Tak ada satu kata pun dari bibir Makkawali, sanregonya diletakkan di balai-balai. Ia terus memandangi wanita itu. Makkawali terpesona. Seperti dirinya telah kena sihir. Makkawali, engkau kini telah menjadi suamiku. Begitu wanita itu menjelaskan kepada Makkawali. Mata Makkawali tetap menatapnya. Hampa.

***

Kehampaan tatapan Makkawali pada perempuan itu membuatnya hilang kesadaraan. Giginya mengeluarkan taring, tubuhnya mengecil. Dan di belakang punggungnya tumbuh dua sayap hitam. Sambil mendekati perempuan itu tubuhnya berangsur menjadi hitam, tubuhnya semakin kecil, sedang perempuan itu telah menjelma menjadi Kalong, begitupula Makkawali, telah berubah menjadi kalong dan terbang bersama Ratu Kalong dan bergelantung di pohon. (*)

Taman Kalong, Soppeng, 7 Nov 2020

Indra Anwar, Seorang guru yang kesehariannya mendidik di MTs. Negeri 1 Maros. Sebagai salah satu penulis puisi pada antologi “API”, Penulis pada angtologi Titipan Langit, penulis pada antologi puisi Kalubampa, penulis pada Antologi Puisi Mozaik Rasa 100 Guru Nusantara.

Komentar

VIDEO TERKINI