Pendakwah Harus Manfaatkan Platform Media Sosial untuk Lawan Konten Intoleransi

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, BOLAAANG MONGONDAW – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 12 Juli 2021 di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali adalah “Khotbah yang Ramah di Internet”.

Program kali ini diikuti oleh 1125 peserta dan menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari dosen Islamic Studies IAIN Manado, Arhanuddin Salim; dosen Fakultas Teologi IAKN Manado, Krueger Kristanto; jurnalis, Budi Nurgianto; dan aktivis kebhinekaan Aan Anshori.

Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Made Dwi Adnjani selaku aktivis Japelidi Unissulla. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pemateri pertama adalah Arhanuddin Salim yang membawakan tema “Konten Khotbah dan Otoritas Pemuka Agama di Internet”. Menurut dia, agama punya peran penting di setiap segmen kehidupan masyarakat Indonesia.

"Pemuka agama punya kekuatan dalam memanfaatkan konten keagamaan untuk mempengaruhi pola pikir umat sebagai objek dakwah," ujarnya.

Berikutnya, Krueger Kristianto, menyampaikan materi berjudul “Perspektif Etika Kristiani”. Ia mengatakan, sejak era pandemi, dakwah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) memasuki masuk babak baru: dari mimbar gereja beralih ke ruang virtual, sehingga pendengarnya tak hanya jemaat gereja.

  • Bagikan