Opini Publik di Era Post-Truth

Senin, 13 September 2021 10:40

Pengamat Politik dan Pemerintahan Unibos, Arief Wicaksono (IST)

Dalam ruang politik, post-truth sangat bersahabat dengan dua entitas yang seringkali dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu untuk mencapai tujuannya. Pertama, Hoax atau berita bohong. Dengan menyemai bibit hoax ke dalam pusaran arus informasi yang real time, tumbuh dan berkembang dengan cepat ini, kita akan selalu mengira, bahwa semua menu yang dihidangkan oleh industri pemberitaan, adalah kebenaran. Bahkan jika yang diberitakan adalah sebuah kebohongan, kita akan cenderung menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Fenomena BuzzeRp adalah sebuah contoh konkrit dari persahabatan antara post-truth dan hoax.

Kedua, entitas yang disebut oleh pegiat media sosial atau media online sebagai filter bubble, yaitu algoritma atau rangkaian operasi perhitungan yang dibuat oleh media sosial atau media online, di mana kita akan selalu disuguhkan informasi yang “sesuai dengan kesukaan kita saja”. Awalnya algoritma ini bertujuan baik, yaitu membuat media sosial atau media online menjadi lebih user friendly bagi kita, para penggunanya. Tetapi saat ini, penyematan filter bubble dalam media sosial kita, membuat kita seolah berada dalam gelembung yang berisi informasi yang itu-itu saja. Kita seperti sulit untuk keluar dari gelembung, dan setiap orang merasa terperangkap dalam gelembungnya masing-masing. Ujungnya, kita tidak akan bisa lagi membedakan, mana yang benar, dan mana yang tidak benar.

Survey (Dan) Opini Publik

Beberapa waktu ini, ruang publik Sulawesi Selatan diramaikan oleh masifnya pemberitaan tentang hasil riset sebuah lembaga survey yang memproyeksikan seorang figur yang relatif cukup dikenal oleh kelas menengah Sulawesi Selatan, sebagai calon wakil presiden potensial dari Indonesia Timur pada hajatan nasional Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. Wacana tersebut sontak mewarnai opini publik hari-hari ini dan mungkin hingga beberapa waktu kedepan, antara lain tentang elektabilitas figur yang di framing, dan validitas atau keabsahan hasil survey tersebut. Dari amatan, sekilas ada tiga kelompok yang berkontribusi melanggengkan wacana tersebut. Pertama, kelompok pro, kedua kelompok kontra, dan ketiga, penumpang gratis atau free rider.

Komentar

VIDEO TERKINI