Mahasiswa dari Lima Provinsi Belajar Keterampilan Abad 21 di Pendidikan Sosiologi Unismuh

Jumat, 1 Oktober 2021 19:24

IST

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Mahasiswa yang berasal dari lima provinsi di Indonesia mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Program Pertukaran Mahasiswa merupakan salah satu program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemdikbud-Ristek), dan merupakan wujud dari Sosialisasi Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Dalam program ini, mahasiswa akan belajar di kampus pada klaster daerah yang berbeda dengan kampus asalnya. Tujuannya agar mahasiswa dapat berjumpa dengan mahasiswa lain dari perguruan tinggi yang berbeda, sehingga dapat mengembangkan kepemimpinan, percaya diri dan kepekaan sosial.

Mahasiswa yang mengikuti pertukaran mahasiswa di Prodi Pendidikan Sosiologi Unismuh berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta, STKIP Muhammadiyah PGRI Sumatera Barat, Universitas Djuanda Bogor Jawa Barat, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang.

Hal itu disampaikan Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi Unismuh Drs Nurdin MPd di kampusnya, Jumat, 1 Oktober 2021.

Pentingnya Multiliterasi Sosial

Menurut Nurdin, mahasiswa yang mengikuti program ini di Pendidikan Sosiologi Unismuh, mengikuti Mata Kuliah Multiliterasi Sosial.

“Melalui mata kuliah ini, mahasiswa akan diarahkan untuk menguasai keterampilan hidup Abad-21, yaitu berpikir kritis, bersikap kreatif, memiliki kecakapan berkomunikasi dan berkolaborasi,” pungkas nakhoda Pendidikan Sosiologi Unismuh ini.

Secara operasional, untuk membangun kompetensi tersebut, ungkap Nurdin, mahasiswa akan dididik untuk mengembangkan keterampilan membaca dan menulis dengan pendekatan Sosiologi.

“Keterampilan membaca teks, maupun membaca realitas sosial, serta merefleksikan bacaan tersebut ke dalam tulisan yang bernuansa kritik sosial. Keterampilan membaca juga merupakan upaya mengembangkan kreativitas dan kapasitas diri,” jelas Nurdin.

Pada zaman ini, lanjut Nurdin, tidak cukup kita hanya memberikan keterampilan yang bersifat praktis. Perkembangan teknologi yang cukup pesat, membuat keterampilan yang kita ajarkan di bangku pendidikan, mungkin tidak mampu mengikuti akselerasi keterampilan di dunia kerja.

Komentar

VIDEO TERKINI