Utilitas IKA Unhas, Antara Jualan Pribadi dan Organisasi

  • Bagikan
Mulawarman

Oleh Mulawarman
(Alumni FE Unhas
)

Hari Jumat (4/3) lusa, IKA Unhas menggelar Musyawarah Besar (Mubes) di Hotel Four Point Makassar, guna memilih Ketua umum (Ketum) baru. 4 kandidat bersaing ketat, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Andi Arman Sulaiman (AAS), Haedar A Karim (HK) dan Suaib Mappasila. Menyusul pelaksanaan event empat tahunan itu, terbersit harapan sekaligus juga doa, kelak IKA Unhas bukan lagi seperti yang diungkapkan Pak JK, sebagai kelompok arisan atau sekadar tempat kongkow-kongkow segelintir orang dekat Ketum yang sering penulis sebut kelompok atau geng penikmat IKA. Tidak memberikan manfaat pada banyak alumni.

Sebaliknya, IKA Unhas harusnya dapat benar-benar mewujudkan tujuannya, sesuai amanat organisasi. Namun di tengah harapan dan doa itu, terselip, sejumlah kecemasan pada sebagian alumninya. Antara lain: kekhawatiran IKA Unhas hanya dijadikan ‘alat politik’ kekuasaan, mengentalkan segregasi kelompok, hingga bayang-bayang menguatnya basis primordialisme.

Dari tiga kekhawatiran itu boleh jadi yang pertama sering dianggap miring, karena menganggap IKA hanya sebagai alat kepentingan kelompok geng penikmat. Yang jelas ketiganya bila tidak dikelola tepat, akan membuat tak terurusnya roda organisasi. Terbukti isi brankas atau kas PP IKA Unhas puluhan tahun dibiarkan nol rupiah, akibathya IKA Unhas tak punya aset senilai serupiahpun. Penulis menahan diri untuk membandingkannya dengan besarnya isi kas dan aset ILUNI UI atau dengan KAGAMA UGM.

Tulisan ini akan menyoroti fungsi dan kedudukan leadership IKA Unhas dalam relasinya dengan organisasi dan para alumninya. Kemudian juga dilihat keadaan tertentu yang lebih relevan dengan konteks dimana organisasi dikelola.

  • Bagikan

Exit mobile version