Pengembangan Wisata Lokal Sangat Tergantung pada Infrastruktur Dasar

  • Bagikan
Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B Kady

Sebelum adanya bandara Toraja, wisatawan harus menempuh jarak panjang untuk sampai ke Toraja.

"Wisatawan pun malas datang. Karena harus menempuh waktu 6 sampai 8 jam baru sampai ke Toraja. Lelah di jalan. Teori dasar pariwisata, perjalanan menuju objek wisata tidak boleh lebih dari 6 jam. Dasar pemikirannya, kalau mau mengembangkan pariwisata Toraja harus ada bandara. Kalau hanya mengandalkan transportasi darat, tidak bisa," ungkap Hamka di Gedung DPR RI, Rabu (16/2/2022).

Selain Toraja, juga ada potensi wisata yang tak kalah menawan yakni Kepulauan Selayar.

Sebagai wilayah kepulauan, yang paling unggul di sana adalah Pulau Karang Takabonerate.

Pulau ini merupakan destinasi wisata yang menawarkan barisan terumbu karang yang memukau dan berwarna warni.

Takabonerate, Selayar

Dengan luas mencapai 220.000 ha, pemerintah pusat pun menjadikan pulau ini sebagai kawasan Taman Nasional pada tahun 2001.

Di kedalaman lautnya yang jernih, tumbuh ribuan terumbu karang atol dengan warna-warni bak pelangi.

Dengan jumlah terumbu karang dan luas daerah yang ia miliki, Takabonerate pun menjadi daerah konservasi terumbu atol terbesar ketiga di dunia di belakang Kwajifein (Kep. Marshal) dan Suvadiva (Kep. Moldova).

Namun, di kelas Asia Tenggara, Takabonerate menjadi nomor wahid.

Sayangnya kata Hamka, pemerintah daerah belum memberi perhatian khusus terhadap infrastruktur penunjang untuk pengembangan wisata lokal.

"Untuk sampai ke Takabonerate butuh speedboat. Wisata ini terkenal. Tapi orang tidak tahu caranya kesana. Karena tidak didukung dengan infrastruktur yang komplit," ujarnya.

  • Bagikan