Dokter H Ahmadi Nur Huda, SpKJ, Psikiater Sekaligus Pendiri Pondok Pesantren

  • Bagikan


Saat menjadi residen, pengalaman Ahmadi yang menarik dan tak terlupakan adalah saat melakukan ECT yang pertama kali, ada rasa ngeri sekaligus kasihan. Ada pula kasus psikosis postpartum, dimana ada seorang ibu yang setelah melahirkan marah-marah dan mengamuk. Pernah pula menangani anak yang minta sepatu, tidak dikabulkan oleh orang tuanya, lalu stres, mau bunuh diri, dan dirawat di RSJ. Pernah juga menjumpai kasus mahasiswi koas yang stres sampai marah, mau mencekik temannya, sampai melempar sepatu, akhirnya ia bisa diamankan satpam dan diantar pulang. 


Pernak-pernik Ponpes Penghafal Quran

Berdirinya pondok pesantren Tahfizh Alquran "Al-Barokah" ini bermula dari istri dr.Ahmadi yang hafidz (hafal) Alquran. Banyak orang yang belajar mengaji di rumah dan lama kelamaan banyak yang bermukim (menginap). Sehingga dibangunlah asrama untuk santriwan/wati yang sekarang menjadi pondok pesantren (ponpes).

Pernah mendapatkan bantuan kambing kurban dari bapak Walikota Semarang dan Depdikbud beberapa kali, santunan lauk-pauk untuk santri. Banyak pula dukanya, misalnya saat mengurus pemasangan jaringan telepon sempat "terlunta-lunta" hingga kurang lebih satu tahun, padahal sudah melalui jalur resmi, terkesan saling melempar tanggung jawab, akhirnya saya meminta bantuan teman. Begitu juga saat mengurus IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) lewat jalur resmi, sudah bertahun-tahun, namun belum juga beres.

Untuk menghafalkan Alquran, seseorangharuslah tekun, setiap hari harus ada hafalan sesuai dengan kemampuan. Ketika mau menambah hafalan, hafalan yang sudah dihafalkan juga harus diulang-ulang. Diperlu waktu sekitar dua tahun untuk menghafalkan Alquran. Demikian penjelasan istri dr.Ahmadi, Siti Maesaroh, AH., S.H.I., M.H. 

  • Bagikan

Exit mobile version