Tradisi Kebaharian Masyarakat Sulawesi Selatan

Senin, 25 Januari 2021 15:03

Ilustrasi

Oleh: Desy Selviana

Provinsi Sulawesi Selatan letaknya sangat stategis karena berada pada titik sentral kepulauan Indonesia bagian timur sehingga menjadi pusat ekonomi, politik dan budaya sejak dahulu. Provinsi ini berbatas pada sebelah timurnya dengan teluk Bone (Sulawesi Tenggara), sebelah selatannya dengan laut Flores (NTB dan NTT), sebelah baratnya dengan selat Makassar (Kalimantan) dan sebelah utaranya dengan provinsi Sulawesi Tengah/Sulawesi Utara. Dengan demikian Provinsi Sulawesi Selatan disebut dengan daerah Maritim karena tiga sisinya berbatas dengan laut. Oleh karena itu, di daerah ini laut merupakan sarana lalu lintas yang lebih umum digunakan dibandingkan dengan lalu lintas darat atau udara. Hubungan dengan daerah luar lebih banyak dilakukan melalui laut, keadaan inilah yang membentuk jiwa penduduknya menjadi pelaut ulung dan terkenal sejak dahulu kala.

Provinsi Sulawesi Selatan hanya 4 daerah tingkat II yang tidak berbatasan langsung dengan laut yaitu: Tana Toraja; Enrekang; Sidrap; dan Soppeng. Dengan letak geografisnya inilah yang menyebabkan penduduk Sulawesi Selatan, utamanya suku Bugis, Makassar, dan Mandar hidup sebagai nelayan yang sejak dahulu terkenal keberaniannya mengarungi lautan luas. Tidak hanya dalam wilayah Nusantara, tetapi mereka bahkan sampai ke benua Austalia, Malaysia, Singapura, Pilipina, Cina hingga ke Madagaskar.

Sebagaimana dijelaskan oleh A. A. Cence bahwa:

“Nelayan-nelayan penangkap teripang Bugis-Makassar telah sampai ke Australia Utara pada akhir abad ke-XVIII. Mereka berangkat dari Sulawesi Selatan pada musim barat dan kembali pada musim timur.”

Jadi mereka menganggap “maddilau” (turun ke laut) adalah merupakan sebahagian dari hidupnya, hal ini disebabkan karena laut sebagai tempat mencari ikan dan juga merupakan sebagai lalu lintas untuk pedagangan ke luar negeri dengan menggunakan alat transportasi buatan sendiri.

Komentar