Ekonomi Maros Mengalami Kontraksi Minus 10,87 Persen

Rabu, 10 Maret 2021 09:55

Ilustrasi Ekonomi Menurun. (int)

FAJAR.CO.ID, MAROS – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maros melemah atau minus 10,87 persen. Kabupaten Maros bahkan menjadi kabupaten pertumbuhan ekonomi terendah di Sulsel.

Penurunan pertumbuhan ekonomi ini menjadi tantangan di awal masa pemerintahan Bupati Maros, AS Chaidir Syam dan wakilnya, Suhartina Bohari.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Maros, Muh Alwi mengakui, jika pertumbuhan ekonomi di Maros mengalami kontraksi minus 10,87 persen.

Angka ini kata dia, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maros. Pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau penurunan hingga minus 10,87 persen. Sementara di tahun 2019, berada diangka 1,24 persen.

Kondisi ini katanya, dialami oleh hampir semua daerah di masa pandemi Covid-19. Namun, Maros yang paling rendah di Sulsel. Ada 17 sektor yang paling berpengaruh. “Sektor transportasi udara dan pergudangan menjadi indikator terbesar penurunan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sebab kata Alwi, dari sektor transportasi udara dan pergudangan menyumbang hampir 40 persen. Sehingga ketika angkanya menuruna akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Bukan hanya itu kata dia, sektor industri pengolahan termasuk semen dan bahan galian mineral dan bukan logam, serta sektor pertanian juga mengalami penurunan.

“Untuk sektor industri minus 7,23 persen. Sedangkan sektor pertanian yang di tahun sebelumnya 5,29 turun menjadi minus 2 persen,” jelasnya.

Dijelaskan Alwi, penurunan yang terjadi dibeberapa sektor itu, selain karena pandemi Covid-19 juga karena faktor alam. Termasuk adanya pandemi Covid-19.

“Kalau transportasi udara di Bandara itu menurun karena jumlah penumpang yang mengalami penurunan,” sebutnya.

Sedangkan untuk sektor pergudangan dan industri kata dia juga disebabkan lesunya pasar dampak dari pandemi yang otomatis menyebabkan penurunan jumlah produksi.

“Kalau sektor pertanian itu disebabkan adanya keterlambatan panen sehingga tidak bisa terhitung di 2020. Dimana ada 20 ribu ton yang tidak terhitung karena keterlambatan panen. Itu akibat cuaca sehingga tidak bisa kita kendalikan,” ungkapnya.

Padahal kata Alwi jika kedua sektor itu yakni sektor transportasi maupun pergudangan itu dikeluarkan dari indikator maka pertumbuhan ekonomi di Maros tak akan mengalami kontraksi.

“Andaikan sektor transportasi angkutan udara dan industri dikeluarkan maka pertumbuhan ekonomi meningkat dari 1,24 ditahun 2019 menjadi 1,61 persen ditahun 2020,” paparnya.

Meski di beberapa sektor mengalami penurunan, kata Alwi, ada dua sektor yang justru tumbuh. Seperti sektor telekomunkasi yang tahun 2019 hanya 6 persen dan di tahun 2020 menjadi 12,69 persen. “Jual beli pulsa atau voucher meningkat,” jelasnya.

Bupati Maros, AS Chaidir Syam mengatakan, penurunan ekonomi yang terjadi secara global itu memang menjadi perhatian pemerintah saat ini. Apalagi kata dia untuk transportasi angkutan udara minus 37,79 persen.

Pemerintah Maros katanya, akan berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan membuat program-program untuk kepentingan masyarakat.

Saat ini pihaknya juga berupaya mendorong program pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19. Termasuk mempercepat program vaksinasi ke masyarakat, agar pandemi ini bisa segera teratasi.

“Mulai dari bantuan modal, pelatihan dan masih banyak lagi. Kita berharap agar pandemi ini bisa segera berlalu,” ujarnya. (*/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI