Adakah Berpikir Merdeka di Kampus?

Rabu, 8 Juli 2020 14:55
Belum ada gambar

Oleh: Hasrullah

Berpikir Merdeka menjadi salah satu topik bahasan yang sangat aktual dan sarat makna dalam diskusi webinar “pemimpin” mahasiswa Unhas dalam wadah Student Leadership Forum (LSF) 2020. Kegiatan LSF dilaksanakan pada 5 Juli 2020 lalu, digawani bagian kemahasiswaan Unhas dengan spin-doctor Arsunan Arsin.

Salah satu materi yang disajikan mengundang decak kagum para peserta webinar dimana pokok bahasan utama soal berpikir merdeka yang disampaikan Prof. dr. Irawan Yusuf, Ph.D. Seorang aktivis Unhas di era 70-80 seangkatan Amran Razak, Hamid Paddu dan Hamid Awaluddin.

Prof Irawan tajam dan kritis dengan menyoroti soal; budaya akademik, kebenaran ilmiah, kebenaran berpikir, keterbukaan akademisi, berpikiran kritis- analisis, rasional dan objektif. Diksi seperti itulah yang wajib dan perlu dikembangkan di masyarakat akademik.

Maka, apa yang disampaikan Kak Irawan (sapaan saya) di hadapan intelektual muda dan fungsionaris lembaga kemahasiswa, sepatutnya menjadi patron ideal dalam menciptakan alumni yang handal. Gelabah atau keresan Kak Irawan sebagai sosok yang “mengumandang” objektivitas berpikir. Apalagi, Beliau melihat ada pergeseran nilai dalam “mencetak” alumni Unhas yang seharusnya tidak hanya melahirkan pencari kerja. Tetapi sebaiknya, bagaimana kematangan cara berpikir kemerdekaan berpikir. Sebab, berpikir merdeka, sepatutnya membingkai “ideologi” universitas : “good university produce graduates, great university produce leaders“.

Pada program LSF ini juga sepantasnya menggledah diri. Apakah kita sadar bahwa budaya akademik yang sementara kita bangun telah mengarah pada pendidikan karakter kemerdekaan berpikir? Maka, sepantasnya program LSF dapat melahirkan pemimpin handal dan tangguh dalam bingkai intelektual dan pemimpin sejati yang dilandasi kemerdekaan berpikir. Jika itu terjadi, maka sosok aktivis alumni mempunyai marwah dan kewibawaan akademik. Program LSF, setidaknya dapat menjadi inspirasi bahwa berpikir merdeka yang disampaikan Kak Irawan akan menjadi cikal bakal membentuk karakter berpikir berlandaskan pada kompetensi intelektual yang menjadi frame mata pisau melahirkan pemimpin masa depan.

Perlu diingat, potret pendidikan yang kita jalani selama ini, karakter berpikir merdeka dikalahkan rutinitas mata kuliah yang menghasilkan mahasiswa lulus dan mendapatkan ijazah. Padahal, kampus yang berhasil, harusnya mahasiswa diarahkan membangun karakter diri dan merancang karier masa depan. Selain menguasai ilmu dan teknologi, juga merancang dirinya untuk menjadi pemimpin yang hebat dan mampu bersaing di palagan nasional dan internasional.

Pertanyaan mendasar di akhir tulisan ini, apakah universitas atau perguruan tinggi di Negeri ini memberikan ruang gerak untuk melakukan kemerdekaan berpikir dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk merancang dirinya menjadi “orang terbaik” menghadapi turbulensi persaingan yang semakin keras dan ketat? Untuk menjawab itu, perlu kita menyimak apa dikemukan pendapat Filsuf ternama Prancis, Rene Descartes dengan testimoni klasik : Cogito ergo sum (Saya berpikir maka saya ada). Kekuatan dan kemerdekaan berpikir adalah landasan filosifis, maka kehadiran berpikir menjadi substansial. (*)

Komentar

VIDEO TERKINI