Dugaan Pencemaran di Pulau Mori, DLH Lutim Puji Respons Cepat PT Vale

Kamis, 26 Agustus 2021 13:33

FAJAR. CO. ID, PALOPO—PT Vale Indonesia Tbk telah melakukan mitigasi terkait dugaan pencemaran yang terjadi di Pulau Mori dengan melibatkan pihak terkait.

Senior Manager Communication PT Vale Indonesia Tbk, Bayu Aji dalam rilis resminya mengatakan jauh sebelumnya pada tahun 2017, sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga kelestarian lingkungan, PT Vale bersama dengan masyarakat, kontraktor PT Vale terkait dan aparat Desa Balantang telah melakukan pembersihan atas keberadaan sulfur di Pulau Mori dan hasilnya di daerah tersebut dinyatakan sudah bersih.

“PT Vale berkomitmen untuk senantiasa menjaga agar tidak terjadi lagi hal serupa di kemudian hari. PT Vale Indonesia Tbk berkomitmen secara rutin untuk melakukan pemeriksaan di area Pulau Mori,” katanya, Kamis (26/8/2021).

Untuk memastikan dan menjaga kondisi lingkungan tetap terjaga dengan baik , PT Vale telah melakukan pengambilan sampel biota laut secara rutin di area muara sungai Malili termasuk Pulau Mori dengan melibatkan pihak ketiga independent yang terakreditasi, yakni Sucofindo dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luwu Timur.

Dua hari lalu, kata Bayu Aji Lembaga independent tersebut telah mengambil sampling air dan tanah untuk memastikan kondisi lingkungan disana apakah ada dugaan pencemaran atau tidak. Hasil sampling akan diumumkan 14 hari kemudian.

“Tak hanya itu, Perseroan telah melakukan join colaboration bersama Syahbandar dan Kontraktor untuk meyakinkan bahwa segala aktivitas memenuhi standard lingkungan. Termasuk meminimalisir Spill Sulfur dengan meyakinkan kondisi peralatan handling material (Clamp Shell),” jelasnya.

Sementara itu, dari hasil peninjauan yang dilakukan pada hari ini 24 Agustus 2021 oleh PT Vale Indonesia bersama DLH Luwu Timur di pulau Mori, Kepala DLH Andi Tabacina Akhmad mengapresiasi respon cepat yang dilakukan PT Vale Indonesia Tbk terkait dugaan pencemaran yang terjadi di Pulau Mori, yang dalam proses tersebut melibatkan seluruh pihak dari Sucofindo, DLH dan Media. Sehingga bisa dipastikan semua prosesnya transparan.

Hari hasil peninjauan untuk sementara dapat disimpulkan jika sulfur yang ada di Pulau Mori bukanlah limbah B3, tapi merupakan material bebatuan.

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan merespon pencemaran Pulau Mori yang diduga kuat berasal dari aktivitas tambang dan industri nikel PT Vale Indonesia. Bahkan secara tegas WALHI menyebut pencemaran tersebut sebagai praktek kejahatan lingkungan.

Atas dasar itu, WALHI Sulsel meminta kegiatan produksi nikel PT Vale Indonesia dihentikan sementara dan dilakukan audit lingkungan terkait implementasi kebijakan perlindungan lingkungan perusahaan.

Kepala Departemen Advokasi dan Kajian WALHI Sulawesi, Slamet Riadi menyebutkan bahwa bukan pertama kali kegiatan tambang dan industri nikel PT Vale Indonesia mencemari ekosistem pesisir Luwu Timur.

“Tahun 2014, PT Vale Indonesia mencemari laut Lampia dengan tumpahan minyaknya. Lalu tahun 2018, kami melihat kondisi dan kualitas lingkungan Danau Mahalona menurun drastis akibat sedimentasi tanah bekas penambangan. Hingga 2021 sekarang, Pulau Mori pun tercemar limbah Sulfur,”jelasnya, Selasa (24/8/2021).(shd-ikbal/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI