Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau, Perjuangan Demokrasi dari Istana

  • Bagikan

Andi Maradang dari awal memang bercita-cita menghadirkan kembali alun-alun yang ada di depan istana. “Dari dahulu saya telah memikirkan,di depan (istana) ada Taman I La Galigo dengan replika Langkanae di sana. Saya juga sudah lama berharap Universitas Andi Djemma membuka Fakultas Ilmu Budaya dan Bahasa, yang menjadi pusat penelitian dan pengkajian naskah-naskah I La Galigo. Kita berburu dengan waktu untuk mengangkat kembali kebudayaan Luwu ini. Intervensi melalui pendidikan sangat perlu. Muatan lokal sejarah dan kebudayaan Luwu, Alhamdulillah sudah jalan,” kata Datu Luwu.

Andi Maradang Mackulau dikenal sebagai pribadi yang egaliter. Beberapa kalangan menganggapnya sebagai Datu yang “gaul”. “Saya juga manusia biasa yang butuh teman. Saya suka berteman dengan siapa saja,”kata Datu Luwu yang gemar mengenakan baju koko. Andi Maradang paham bahwa pada diri Datu Luwu memang melekat dua simbol, yaitu simbol anutan bagi rakyat Luwu yang bersifat praksis, dan simbol kesa-kralan yang nirwujud sebagai representasi kemuliaan Kedatuan Luwu.

“Mungkin karena dua simbol inilah, makanya waktu saya naik angkot keliling Palopo, saya diomelin dari Dewan Adat. Yah, kalau mau sekadar duduk-duduk saja dalam istana yah susah juga ya…,” kata Datu Luwu inisambil tertawa renyah.

Datu Luwu yang gemar memancing ini senantiasa berupaya mengurangi sekat-sekat dengan pemerintah. “Pemerintah harus dihormati, tetapi kalau ada kekeliruan, dikritik,” ujarnya.

Data Diri:Nama Lengkap: Andi Maradang Mackulau Opu Daeng BauKelahiran: Makassar, 17 Desember 1957.

Riwayat Pendidikan :• Institut Pariwisata Indonesia Yogyakarta (1979).• Sarjana Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta (1983)

Riwayat Pekerjaan :Vice President PT Medco E&P Indonesia

  • Bagikan