Unifa Gandeng Univerity of Canberra Bedah Penanganan Covid-19

Jumat, 24 Juli 2020 09:50
Belum ada gambar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) mengakibatkan banyak negara berada dalam situasi krisis yang luar biasa. Selain karena sifat pandemi yang tidak terduga, krisis ini juga diakibatkan penyebarannya yang sangat cepat meluas melintasi batas-batas wilayah dan negara.

Hal tersebut yang mendorong Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Fajar (Unifa) menggelar sharing session bersama Managing Director Indo-Australia Institute of Governmance and Deliberative Transformation University of Canberra, Kamis (23/7/2020).

Dalam kegiatan ini menghadirkan dua pembicara yakni Dr. Muliyadi Hamid SE.,M.Si selaku Rektor Unifa, dan Harun Harun, PhD, MAcc, CPA,CA sebagai Managing Director Indo-Australia Institute of Governmance and Deliberative Transformation University of Canberra. Masing-masing dari pemateri membawakan materi sehubungan dengan strategi dan komunikasi penanganan Covid di masing-masing negara.

“Sangat disayangkan memang karena penanganan Covid-19 di Indonesia tidak ditangani secara maksimal. Dengan melihat bahwa pengumuman mengenai perkembangan penyebaran virus dilakukan dengan pendekatan kebencanaan dan juga keterlibatan berbagai pihak yang tidak punya latar belakang kesehatan berkomentar sehingga menimbulkan distrust atau ketidakpercayaan masyarakat,” jelas Muliyadi dalam pemaparan materinya mengenai kajian atas strategi dan komunikasi pemerintah dalam penangan Covid-19 di Indonesia.

Lebih lanjut, Muliyadi mengungkapkan bahwa ada berbagai tantangankomunikasi yang akan dihadapi oleh Pemerintah Indonesia. Mulai dari perlunya mensinkronkan regulasi antar daerah agar diharapkan tidak ada ketimpangan peraturan di Indonesia dengan tetap mengingat faktor geografis, demografis, sosial budaya, ekonomi, dan politik. Dan masyarakat juga perlu memilah berita yang valid sehingga menghindari hoaks.

Hal serupa juga disampaikan oleh Harun dalam materinya mengenai perbandingan strategi dan komunkasi pemerintah yang dilakukan dalam penangan Covid-19 di Australia.

“Di Australia sendiri sebenarnya penanganan pemerintah atas Covid-19 kurang tanggap apabila dibandingkan dengan New Zaeland. Hal ini terjadi karena adanya kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah, hingga timbul kasus-kasus baru lagi meski sebelumnya sudah sempat turun,” terang Harun.

Mobilitas masyarakat dibeberapa daerah di Indonesia yang masih tinggi dibandingkan dengan di Australia menurut Harun menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran virus masih tinggi. Di sisi yang lain, Harun menilai lambatnya penanganan non-Covid di Indonesia tidak secepat di Australia.

“Contoh penangan non-Covid bisa dilihat dari segi ekonomi. Di Australia dalam kurun waktu seminggu setelah pengumuman mengenai wabah Covid, pemerintah langsung mengirimkan bantuan dana kerekening masyarakat yang membutuhkan sehingga roda perekonomian bisa tetap jalan dan tidak turun drastis,” tutup Harun.

Diakhir sesi seminar, Dr. Habib Muhammad Shahib, SE., M.Si., Ak.,CA.,ACPA.,CSRS.,CSRA selaku ketua LPPM dan juga host dalam acara ini juga mengumumkan MoU antara Indo-Australia Institute of Governmance and Deliberative Transformation University of Canberra dan Universitas Fajar dalam bidang penelitian dan pengabdianmasyarakat.(isman/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI