Hasil Swab di 45 Tempat Usaha Non Reaktif, Epidemilog Minta Pemkot Perbaiki Tracing

Jumat, 3 September 2021 10:06

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sebanyak 45 tempat usaha di Makassar yang telah disasar oleh Satgas Raika Kota Makassar yang bekerja sama tim dari Dinas Kesehatan untuk diswab antigen.

Dari 45 tempat usaha, sebanyak 296 orang yang telah diswab sejak dilakukannya operasi sejak 26 Agustus hingga 2 September kemarin.

45 tempat usaha itu diantaranya, Toko Agung Ratulangi (23), Pisang Epe Pantai Losari (25), Toko Bintang Veteran (20), Kopi Soe (2), Abu Lahab Coffee (2), Warkop Om Ben (2), Kopi Ming (1), Daun Coffee (2), Warkop Delima (1), Mie Setan (2), Mie Janda Judes (2) dan Sarabba Cerekang (7).

Kemudian Warkop Lagota (11), Toko Gelael (15), Grand Mode (28), Es Kelapa Muda Ujung Pandang (3), Warung Kelontong Cakalang (1), Gerobak Gorengan Cakalang (1), Warkop Mama Muda Cakalang (3), Warkop Fafafa (2), Warkop Sinonim (5), Kopi Silong (1), Kopi Kanrejawa (3), Jalan Nusantara (5), Indomaret Ahmad Yani (3), dan Penjual Es Kelapa Penghibur (9).

Selanjutnya, Sari Laut Mas Toha (1), Sari Laut Mba Atun (3), Losari Ponsel (1), D’Penyetz (2), RM Pantai Indah (3), RM Sentosa (12), Warkop Temangopi (5), Cafe Klinik Kopitea (4), Coto Gagak (2), Cafe Haloman (2), Jalan Cakalang (18), Pasar Butung (5), Toko Baji Pamai (14), Hanggar Talasalapang (5), Alfamart Tentara Pelajar (9) dan di New Makassar Mall dengan 4 tempat usaha yang berbeda (31).

Plt Kepala Satpol PP Kota Makassar Iqbal Asnan mengatakan, kegiatan ini sesuai dengan instruksi Wali Kota Makassar.

“Swab yang dilaksanakan adalah kegiatan Satgas Raika untuk meminimalisir titik-titik yang berpotensi terjadi kerumunan,” katanya ketika dikonfirmasi, Jumat, (3/9/2021).

Sementara itu, Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Ridwan Amiruddin mengatakan, screening dari swab antigen terbilang cukup baik, nol kasus yang ditemukan dari hasil swab merupakan indikasi kuat kasus mulai Covid-19 mulai membaik.

“Metode swab antigen yang dilakukan disana tidak ada yang reaktif menunjukkan kecenderungan kasus di populasi umum semakin kecil. Efektifitas antigen untuk mendeteksi adanya reaktif sebagai screening awal itu sudah cukup baik, kecenderungan kasus mulai terkendali,” ujarnya.

Hanya saja segmen yang disasar masih sangat minim, menurutnya kontak erat sebagai bentuk tracing dianggap sangat kurang. Padahal penjejakan kasus dianggap akan lebih efektif jika dilakukan demikian.

“Sebenarnya masih perlu diperbaiki tatalaksana tracingnya. Tracing harusnya sesuai kontak erat, bukan hanya memperbanyak yang dilacak tapi harus memiliki kontak erat,” terangnya.

Selain itu, meski indikasi menunjukkan tren yang baik, standar kuantitas tracing Makassar masih dipertanyakan.

Inmendagri No. 36 tahun 2021 dianggap belum sepenuhnya dipenuhi dimana sesuai standar Makassar masih harus melakukan tracing minimal 15.554 orang per hari.

Sementara untuk skala provinsi dianggap sudah memuaskan. Jumlahnya dilaporkan berangsur normal dengan kisaran testing mencapai 3,4:1000 dimana standar sudah mencapai 3:1000.

“Standar testing untuk Sulsel sekarang menunjukkan angka 3.4 per 1000 per pekan. Sudah beberapa pekan di atas standar (3/1000),” ujarnya.

Dia melanjutkan, hal ini harus tetap disikapi dengan hati-hati, pertumbuhan ekstrim kasus Covid-19 per Juli hingga Agustus lalu mengindikasikan berlalunya gelombang kedua Covid-19.

93% kasus kata dia diakibatkan oleh varian delta dan delta plus, sehingga ke depan varian-varian baru patut diwaspadai.

Penyebab lainnya adalah minimnya kedisiplinan masyarakat dalam menjaga mobilitas yang memperburuk penambahan kasus.

“Isolasi virusnya apapun typenya dengan prokes yang ketat, intesifkan tracing kasus hingga ratio 1: 15 secara benar, memastikan Testing secara massif dan semua kasus yang terkonfirmsi dengan gejala ringan sampai sedang diisolasi secara terintegrasi di FIT yang telah disediakan,” imbuhnya. (rasid-selfi/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI