Mudik: Rindu yang Harus Terbalaskan

  • Bagikan
IST

Oleh: Adnan Kasogi

(Dosen Departemen Sosiologi Unhas/MWA Kampus Gagasan)

“Rindu rumah, aku rindu pulang
Rindu yang tersayang, ayah dan ibu
Rindu rumah, aku rindu pulang
Rindu ku disayang sanak saudara”.

Sepenggal lirik lagu milik Wizz Baker pada tahun 2020 ini selalu terngiang ngiang oleh penulis. Banyaknya netizen yang menggunakan back song di platform sosial media tiktok hingga Instagram ini mengisyaratkan bahwa rindu akan suasana kampung halaman dan atau tempat kelahirannya. Baik kerinduan hangatnya sentuhan belaian dan masakan orangtua menjadi hal yang dinantikan Kembali. Merindukan hal tersebut yang membuat masyarakat melakukan aktfitas mudik untuk bertemu dengan sanak keluarga hari yang fitri ini.

Menjelang dan pasca Hari Raya Idul Fitri pada tahun ini ditutup dengan aktifitas mudik oleh Sebagian kalangan masyarakat yang merantau dari kota tempat tinggalnya. Perencanaan yang telah terstruktur baik jauh hari maupun dalam waktu dekat oleh para perantau untuk Kembali pulang kekampung halamannya. Kerinduan yang sulit terbendung berdampak pada tingginya angka mudik pada tahun ini. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa masyarakat menyadari bahwa rumah atau kampung halaman adalah tempat untuk pulang. Berkumpul Bersama sanak keluarga menjadi hal yang dinantikan oleh kalangan masyarakat yang mudik dan menjadikan libur pasca hari raya menjadi momentum terbesar saat ini. Mudik juga digunakan untuk berkumpul, bertemu dan bersilaturahim Bersama keluarga serta dijadikan pula untuk berziarah kubur oleh keluarga yang lebih dulu ditinggal.

  • Bagikan