Mengulas Tindak Tutur Provokatif dalam “Dirty Vote”: Analisis Linguistik Forensik

  • Bagikan

Nirwana
Mahasiswa Doktoral Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia

Sejak momen perdana penayangannya di YouTube pada tanggal 11 Februari, film "Dirty Vote" telah menjadi buah bibir di seluruh publik. Dengan durasi 117 menit, film ini menampilkan sebuah narasi yang menarik dan kontroversial yang melibatkan tiga pakar hukum tata negara. Dalam film ini, ketiga pakar ini membongkar apa yang mereka gambarkan sebagai serangkaian kecurangan yang terjadi dalam proses pemilihan presiden tahun 2024.

Dengan gaya penceritaan yang mendalam dan pendekatan analitis yang cermat, mereka menyoroti berbagai aspek peristiwa tersebut, menelusuri jejak-jejak ketidakberesan yang tersembunyi di balik lapisan-lapisan kompleksitas politik. Melalui berbagai argumen yang disajikan dengan rinci dan bukti-bukti yang kuat, film ini menghadirkan sorotan tajam terhadap tantangan-tantangan dalam menjaga integritas dalam sistem politik dan demokrasi.

Ulasan dari berbagai pihak terhadap film ini telah menjadi titik perdebatan yang menggerakkan opini masyarakat. Sebagian menilai film ini sebagai kampanye hitam yang bertujuan memprovokasi pemakzulan terhadap Presiden Jokowi serta mencoba mengaitkannya dengan paslon tertentu dalam konteks politik. Namun, di sisi lain, ada pandangan yang menyatakan bahwa film tersebut juga dapat diinterpretasikan sebagai bentuk pendidikan politik bagi masyarakat secara netral, tanpa menunjukkan keberpihakan pada pihak manapun. Dengan begitu, film ini menjadi objek penilaian yang kompleks dan mendorong pemirsa untuk mempertimbangkan sudut pandang yang beragam sebelum mengambil kesimpulan.

  • Bagikan